"Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata : "Sesungguhnya aku takut kepada Allah", seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya"
(HR Bukhari Muslim)
Featured Post Today
print this page
Latest Post

Info Lomba LPPM 2013

Dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1432 H, LPPM Sumbar Mengadakan beberapa lomba untuk menguji kreativitas para pelajar di Sumatera Barat.

Lomba-Lomba yang diadakan
1. Lomba Musikalisasi puisi
2. Lomba Kreasi produk Inovatif
3. Lomba Story telling
4. Lomba Film Dokumenter

Peserta adalah para pelajar yang ada di sumatera barat
0 comments

Remaja Islam Sepanjang Sejarah

Sejarah dunia telah mencatat banyak nama-nama besar dari orang-orang luar biasa yang telah mengukir prestasi dalam mempengaruhi dan mengubah dunia. Baik dari dunia barat maupun dari dunia timur. Kita pasti telah mengenal siapa itu Napoleon Bonaparte, sang Kaisar Perancis. Atau kita mengenal siapa itu Thomas Alva Edison, sang penemu serba bisa. Dan jika kita beralih ke dunia timur, maka kita akan mengetahui sosok seperti Ibnu Sina, Jabir bin Hayyan, al-Khawarizmi, Tariq bin Ziyad, dan Muhammad II al-Fatih.
            Memang, jika kita melihat pengaruh mereka bagi dunia maka tentu kita akan mendapati bahwa sejarah hidup mereka penuh dengan kegemilangan dalam kontribusi mereka bagi dunia. Namun tahukah anda, bahwa ternyata banyak diantara mereka yang rupanya satu golongan: Pemuda!
            Ya, mereka yang telah mengubah arah perputaran roda zaman –dengan kehendak Allah tentunya- ternyata banyak dari golongan pemuda. Bahkan, hingga zaman sekarang pun peran pemuda dalam kancah dunia tidaklah pudar. Kita tentu mengenal apa itu Facebook, You Tube, Google, Yahoo, dll. Yang merupakan hasil karya dari tangan-tangan kreatif para pemuda yang luar biasa, seperti Mark Zuckerberg, Larry Page dan Sergey Brin, dan masih banyak lagi.
            Mengapa para pemuda ternyata mampu memiliki kekuatan besar untuk melakukan hal itu semua? Jawabannya adalah karena sesungguhnya pemuda merupakan investasi bagi masa depan umat manusia. Dan sejarah telah membuktikannya. Mulai dari jatuh bangunnya peradaban umat manusia dari masa lalu hingga masa kini.
            Masih ingatkah kita dengan revolusi Perancis? Di saat itu, pengaruh seorang pemuda sangatlah besar, dan siapakah pemuda itu? Dia bernama Robespierre. Pemuda yang menjalankan pemerintah teror di Perancis. Dan akhirnya, ia pun dieksekusi di bawah Guillotine. Dan saat itu pun muncul tokoh yang tak lagi asing bagi sejarah, Napoleon Bonaparte yang pada akhirnya menjadi kaisar Perancis setelah menggulingkan rezim yang berkuasa saat itu.
            Atau masih ingatkah kita kepada zaman pertengahan, ketika hegemoni Tartar dan Mongol menguasai dunia. Jenghis Khan –yang sejak dari muda telah menjdai pemimpin yang berhasil- meluaskan daerahnya hingga menyentuh kekuasaan Islam saat itu, Abbasiyah. Bahkan, cucunya, Hulaghu Khan dan tentaranya akhirnya berhasil menumbangkan kekhalifahan besar itu. Baghdad ditaklukkan dan Khalifah al-Mu’tashim serta keluarganya dibunuh. Saat itu dunia benar-benar jatuh ke dalam ketakutan yang luar biasa kepada kekuatan Mongol. Tetapi, ternyata mitos ‘tentara tak terkalahkan’ itu akhirnya berhasil dipatahkan oleh tentara kaum muslimin di bawah pimpinan seorang panglima muda dari Mesir, Saifuddin Qutz. Kemenangan yang gemilang dalam Perang ‘Ain Jalut akhirya menyurutkan langkah Mongol menguasai dunia. Dan hal itu berhasil dilakukan dibawah komando seorang pemuda!
            Sejarah pun telah megenal siapa itu Tariq bin Ziyad, penakluk Spanyol pada masa al-Walid bin Abdul Malik, Khalifah Bani Umayyah. Saat itu, dirinya menaklukkan wilayah itu dalam usia yang sangat muda, Kurang dari 30 tahun.
Atau mungkin yang paling fenomenal dalam sejarah, yaitu Muhammad bin Murad al-Fatih! Sultan dari Turki Utsmani yang lebih dikenal dengan nama Muhammad II al-Fatih ternyata berhasil menaklukkan salah satu imperium paling berkuasa dan kokoh sedunia, Romawi Timur! Dirinya berhasil membuka dan menaklukkan kota yang paling kokoh dan sulit ditaklukkan saat itu, kota Konstantinopel atau Byzantium. Kota itu memiliki benteng yang kuat dan kokoh, ditambah lagi dilindungi oleh perbukitan yang menambah kesulitan untuk menembusnya. Sebenarnya kota itu telah berkali-kali diserang oleh kaum muslimin, dari masa Bani Umayyah dibawah pimpinan Abu Ayyub al-Anshari hingga masa ayahnya, Murad II. Namun akhirnya kota itu ditaklukkan oleh Muhammad al-Fatih yang saat itu baru berusia 21 tahun!
Sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga ternyata telah banyak pemuda-pemuda luar biasa yang berhasil mengharumkan nama Islam dan nama mereka di dunia. Sebut saja Zaid bin Tsabit, shahabat Nabi yang tidak sempat turut dalam Perang Badr dan Uhud karena usianya yang masih muda, namun karena kesungguhannya dirinya mampu menjadi pemuda cemerlang yang diangkat sebagai sekretaris Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menguasai banyak bahasa, diantaranya Ibrani dan Suryani.
Atau mungkin ada Usamah bin Zaid bin Haritsah, putera salah satu shahabat senior, Zaid bin Haritsah. Usamah yang waktu itu berusia kurang dari 20 tahun telah diutus oleh Nabi –yang saat itu di akhir hayatnya- untuk menjadi komandan pasukan perang yang menyerbu daerah Romawi.
Kemunduran pemuda Islam
Jika tadi kita melihat banyak sekali figur pemuda Islam yang begitu hebat, maka sekarang kita memiliki sebuah pertanyaan besar,
“Mengapa saat ini, pemuda kaum muslimin mengalami kemunduran yang drastis?”
Saat ini sepertinya pemuda Islam begitu lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Para pemuda Islam telah terlena dengan dunia hingga akhirnya pribadi mereka menjadi lemah. Berbeda sekali dengan Ibnu Sina yang sejak umurnya 17 tahun telah mampu membuka praktik sendiri, bahkan dirinya akhirnya diangkat sebagai dokter pribadi khalifah.
Mengapa hal itu terjadi? Karena saat ini para pemuda Islam telah kehilangan figur teladan dalam kehidupan mereka. Saat ini banyak diantara pemuda kaum muslimin terjerat virus globalisasi yang akhirnya menghilangkan sosok-sosok pemuda luar biasa sepanjang sejarah dari dunia Islam. Bahkan yang disebarluaskan malah artis-artis yang merupakan produk-produk kenistaan dunia. Saat ini pemuda banyak menirukan gaya hidup tidak baik dan bertabiat buruk dari tradisi barat. Mulai dari hedonisme, hura-hura, foya-foya, dll.
Saat ini kita kehilangan sosok pemuda seperti Usamah bin Zaid sang komandan, Tariq bin Ziyad yang kuat, Abdullah bin Mas’ud yang amanah, Abdullah bin Abbas yang berilmu, Zaid bin Tsabit yang cerdas, Ali bin Abi Thalib yang perkasa, dan Muhammad al-Fatih sang penakluk.
Kita justru saat ini sering sekali mendapati kondisi pemuda seperti kondisi Kan’an bin Nuh yang menolak kebenaran, sosok Samiri yang menyesatkan, atau sosok Abdullah bin Ubay bin Salul yang munafik, atau sosok-sosok lainnya yang bodoh dan jahil dalam ilmu.
Kita kehilangan figur dan pribadian seorang muslim pada remaja muslim saat ini. Dan tentunya, hal ini sangatlah miris mengingat kita pernah berjaya karena para pemuda cemerlang dan luar biasa.
Karena itu, sudah seharusnya para pemuda kita menjauh dari perilaku-perilaku kenakalan remaja yang mampu menjatuhkan harkat dan martabat kita sebagai umat Islam, umat terbaik yang pernah dilahirkan ke dunia. Wallahu a’lam       


Sumber: http://cafe-islamicculture.blogspot.com
0 comments

Karakteristik Pemuda Islam

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu. (Ashur Ahams;1978).


Karakteristik  Pemuda Islam:

1. Salimul Aqidah (akidah yang lurus)

2. Shahihul ibadah (ibadah yang benar)

3. Matinul Khuluq (akhlak mulia)

4. Qadirun al-Kasbi (berpenghasilan/mandiri)

5. Mutsaqaful Fikri (berwawasan luas)

6. Qawiyyul Jismi (fisik kuat dan sehat)

7. Mujahidun Linnafsih (jiwa yang selalu bersemangat)

8. Munadzam fi Syuunih (sistematis)

9. Harishun 'ala Waqt (menjaga waktu)

10. Nafi'un Lighairih (berguna untuk orang lain).
0 comments

UWAIS AL-QORNI - Terkenal di Langit,Tak terkenal di bumi




Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. 


Dia adalah “Uwais al-Qorni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka mentertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. 


Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-qorni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. 


Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya. Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. 


Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? 
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditinggalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. 



Tibalah Uwais al-Qorni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru. Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-qorni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. 


Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Sayyidina Ali k.w. dan Sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”. Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah digantikan oleh Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-qorni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada Sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. 


Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan Sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. 


Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”. 


Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihentam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. 
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal. 



Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. 


Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
0 comments

Karakteristik Pemuda Islam Kontemporer

"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk". (Al-Kahfi [18]: 13)


Mukaddimah
Sepanjang peradaban manusia, pemuda adalah pelopor. Berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya. Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat. Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam sebuah Hadits, di antara tujuh kelompok yang mendapatkan naungan Allah Ta’ala pada hari ketika tak ada naungan selain naungan-Nya, adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemuda dalam Sejarah Islam
Dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang sangat riil disaat pemuda kini kehilangan figur yang bisa dicontoh. Sebut saja misalnya, pemuda Ibrahim yang tumbuh di lingkungan masyarakat penyembah berhala.

Sejarah menyebutkan betapa hebatnya kekuatan ruhani Ibrahim. Ia menegakkan nilai-nilai tauhid justru di tengah dominasi dan hegemoni paham paganisme seorang diri. Bahkan ayah kandungnya sendiri menjadi musuhnya. Kalau bukan kesabaran dan keyakinan yang terpatri di dalam hati mustahil misi suci ini bisa diwujudkan.
Atau kisah pemuda Al-Kahfi, sebutan bagi para pemuda yang rela berdiam di dalam gua yang pengap. Mereka lebih memilih meninggalkan gemerlap kehidupan modern di kota daripada harus tenggelam dalam tatanan masyarakat yang rusak. Mereka para pemuda yang tak lagi memikirkan tawaran dunia sebab mereka lebih sibuk mengurus nasib akhirat. Alhasil, mereka itu sepakat menyelamatkan keimanan mereka dibanding mengurus dunia ini.

Karakteristik Pemuda Muslim
Sebagai sumber ilmu dan rujuan terbaik, al-Qur`an tidak hanya menyebutkan para pemuda tersebut sebagai sebuah kisah yang indah, tapi juga menjelaskan karakteristik sosok pemuda ideal bagi generasi berikutnya. Ia tak cukup untuk dikenang saja tapi nilai yang paling utama adalah meniru perilaku dan akhlak mereka sebagai teladan-teladan terbaik yang pernah ada.

Pertama, memiliki syaja’ah (keberanian) dalam menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang bathil (salah) itu bathil (salah). Karakter utama pemuda Muslim adalah siap bertanggung jawab dan menanggung risiko dalam mempertahankan keyakinannya.
Teladan spektakuler telah dicontohkan oleh pemuda Ibrahim pada masa Raja Namrudz, penguasa tirani ketika itu. Dengan gagah berani Ibrahim menghancurkan sekumpulan berhala kecil, lalu menggantung kapaknya ke leher berhala yang paling besar. Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Kisah heroik ini dikisahkan secara bertutur dalam surah Al-Anbiya [21]: 56-70.
Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuda Muslim tak mengenal kata berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, akan menghantarkan ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui.
Firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (Al-Baqarah [2]: 260)
Ketiga, sosok pemuda Muslim selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus. Sikap mereka layaknya pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah dalam surah al-Kahfi. Mereka berkumpul untuk merencanakan sebuah kebaikan dan saling menguatkan di dalamnya. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat atau merencanakan suatu keburukan.
Jadi, para pemuda Muslim berkelompok bukan sekadar untuk huru-hara, kongkow-kongkow yang tidak jelas. Tetapi mereka berkelompok dalam kerangka ta’awun ala al-birri wa at-taqwa, bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.
Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Dalam kondisi sekarang, hal ini menjadi suatu hal yang sangat berat. Dekadensi moral yang mendera masyarakat khususnya para pemuda. Belum lagi dominasi budaya Barat yang begitu menggila di tengah masyarakat menjadikan pergaulan islami menjadi sesuatu yang sangat mahal saat ini. Kisah kepribadian Nabi Yusuf sangat layak dijadikan teladan bagi para pemuda.
Kala itu pemuda Yusuf digoda oleh Zulaikha di dalam ruangan tertutup. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan mereka selain mereka berdua saja. Namun dengan akhlak yang terjaga serta pertolongan Allah tentunya, akhirnya sang pemuda tampan itu bisa lolos dari jeratan bujuk rayu Zulaikha yang dibisikkan oleh setan laknatullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]: 22-24).
Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi. Jati diri pemuda Muslim terlihat pada sikap tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan hidup adalah peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa.
Kekurangan materi yang melilit kehidupan sehari-hari, kesusahan hidup yang terus melekat erat tak jarang menjadikan seseorang kehilangan semangat hidup. Alih-alih berpikir positif untuk orang lain, seringkali orang seperti ini hanya bisa berpikir pragmatis saja. Sebaliknya, orang yang punya etos kerja tinggi akan berusaha terus. Meski duka lebih sering menyapa, tapi hal itu tak menyurutkan ghirah hidupnya. Ia tetap memiliki visi yang tajam serta himmah aliyah (tekad yang tinggi).
Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia tumbuh menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya) dari masyarakat. Segala rintangan dan kesulitan hidup hanya menjadi batu loncatan bagi pemuda Muhammad meraih kesuksesan hidup.
Setiap tahun, masyarakat kita memperingati hari Sumpah Pemuda di negara ini. Sayang, peringatan itu hanya sebatas kegiatan seremonial semata, tetapi miskin subtansi. Dengan adanya karakteristik sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia dahulu, masa kini dan masa depan.*Sholih Hasyim, pengasuh Pesantren Hidayatullah Kudus. 

0 comments

PROFIL LPPM SUMBAR



LPPM-SB didirikan di Padang pada tanggal 20 Desember 1998 oleh sejumlah mahasiswa aktivis dakwah di Sumatera Barat. Pada mulanya LPPM-SB berada di bawah Yayasan Sosial dan Studi Islam Ahda Sabila sampai pada  tanggal 20 Januari 2002, LPPM-SB resmi menjadi sebuah lembaga/instansi mandiri (LSM) yang bergerak dibidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan dengan akta notaris tanggal 15 Mei 2002 No. 17. Lembaga/instansi ini bukan merupakan organisasi pemerintah, non partai, independent dan non profit. Sasaran LPPM adalah pelajar dan remaja mesjid se-Sumatera Barat. LPPM Sumbar terdaftar di Dirjen Pajak dengan nomor wajib pajak (NPWP): 02. 631. 580. 4-201. 000.
        LPPM Sumbar memiliki Visi menjadi lembaga/instansi yang mandiri dan terdepan dalam pembinaan pelajar Sumatera Barat. Untuk mencapai Visi tersebut, dijabarkan sejumlah Misi sebagai berikut:
1. Meningkatkan kapasitas personil dan profesionalitas lembaga/instansi secara berkesinambungan
2.   Membentuk integritas pribadi pelajar muslim yang shaleh, kreatif, inovatif dan produktif
3.   Menyiapkan pelajar muslim yang dapat berperan sebagai penggerak perubahan
4.   Menjalin kerja sama dengan lembaga/instansi terkait yang memiliki kesamaan tujuan
5.   Membentuk usaha produktif untuk mendukung kemandirian operasional lembaga/instansi
          Dalam rentang waktu 14 tahun sejak didirikan, LPPM-SB telah malang melintang dan ikut serta dalam pembinaan Remaja dan pelajar (pelajar dan remaja mesjid) di ratusan sekolah dan mesjid se-Sumatera Barat. Salah satu produk unggulan LPPM-SB adalah Pesantren Kilat baik pada waktu Ramadhan maupun pada waktu MOS dan liburan sekolah di berbagai daerah di Sumatera Barat. Alhamdulillah, prestasi LPPM Sumbar cukup baik dalam mengelola kegiatan ini, terlihat dari respon dan kepuasan pihak sekolah, masjid/mushalla yang bekerja sama dengan lembaga/instansi dalam pelaksanaannya. Dari hasil pembinaan LPPM-SB juga telah banyak lahir pelajar-pelajar cerdas yang berakhlak karimah, bahkan sebagiannya mendirikan sebuah organisasi pelajar yang bernama ASSALAM (Asosiasi Pelajar Islam) Sumbar.
Untuk mendukung pelaksanaan berbagai programnya, LPPM Sumbar aktif melakukan perekrutan dan pembinaan instruktur yang umumnya berasal dari mahasiswa berbagai kampus di Sumatera Barat. Saat ini LPPM mempunyai lebih kurang 350 relawan yang insya Allah siap untuk membina generasi muda di Sumatera Barat, baik yang bersifat insidentil maupun secara berkesinambungan yang dikenal dengan istilah mentoring agama Islam (MAI). Alhamdulillah sampai saat ini LPPM-SB telah pernah melakukan pembinaan rutin di lebih dari 10 sekolah (kerjasama dengan alumni maupun turun langsung ke sekolah).
          Untuk masa mendatang, LPPM-SB akan selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendidik generasi muda pada suatu wadah yang saat ini menjadi cita-cita LPPM-SB yaitu berupa “Student Centre” sebagai wadah kreativitas dan pengembangan kepribadian generasi muda Sumatera Barat.

KEGIATAN YANG PERNAH DILAKSANAKAN LPPM-SB
Beberapa kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh LPPM Sumbar sejak awal berdiri sampai saat ini adalah:
A.   Pesantren Kilat
§  SMU 1 Guguk, Payakumbuh
§  MAM dan MTsS Sikaping, Pasaman Barat
§  Remaja Mesjid Sitiung Blok A, Dharmasraya
§  SMU 1, 2 dan 3 Bukittinggi
§  SMU 1 Padang Panjang
§  MAN Muaro Paneh, Solok
§  SMU 1 Muara Labuh, Solok Selatan
§  SMU se-Sawah Lunto Sijunjung
§  Mesjid PT Semen Padang
§  Puluhan sekolah (SMU/MA/SMP/MTs) dan masjid/mushalla lainnya di Sumatera Barat
B.   Non Pesantren Kilat
§  Islamic Student Camp Remaja Mesjid se-Kota Padang
§  Bakti Sosial
§  Penyaluran Qurban bekerja sama dengan Menpora
§  Pelatihan Instruktur
§  Penyuluhan dan talk show tentang Narkoba dan Kenakalan Remaja
2 comments

Buku Tamu

Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).
وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’ 4:1).
Juga sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam ,
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه
Artinya: “Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

So,  tinggalkan komentar, pesan atau nasehatnya Sobat, agar ukhuwah itu tetap bersemi dalam keberkahan-Nya......


Salam santun dari kami, 

LPPM  SUMBAR
1 comments
 
Template by: Creating Website |
Copyright © 2011. LPPM Sumbar - All Rights Reserved
Website of LPPM Sumbar